Apa itu konsumtivisme?

Konsumtivisme memiliki dua akar kata yaitu “konsumtif” dan “isme”. Konsumtif adalah kata sifat yang memiliki kata dasar “consumptus” (Latin), “consume” (Ingg.), konsumsi (Ind.). Dengan demikian kata konsumtif berarti sifat mengkonsumsi, memakai, menggunakan, menghabiskan sesuatu. Sangat menarik, dalam bahasa inggris kata “konsumtif” digunakan untuk menyatakan penggunaan sesuatu hal dengan berlebih-lebihan, memboroskan, obsesif, dan rakus. Bahkan kata ini juga digunakan bagi orang yang terkena TBC di paru-paru. “Konsumtif” bisa digunakan untuk penggunaan kepada uang, waktu, atau energi dengan berlebihan dan destruktif. Jika demikian maka konsumtivisme adalah sebuah pandangan hidup, gaya hidup, ajaran, sikap atau falsafah hidup yang memakai, mengkonsumsi, menggunakan, menghabiskan sesuatu dengan berlebih-lebihan, memboroskan sesuatu.

Manusia memang “konsumtif”

Namun rasanya tidak adil dan amat naif jika kita hanya berhenti mengartikan kata “konsumtif” hanya demikian saja, karena menurut saya manusia memang “konsumtif”. Kok bisa? Maksud saya bukankah memang ada sifat mengkonsumsi sesuatu dalam kehidupan kita. Saat ini saudara-saudara sedang mengkonsumsi waktu dan energi saudara untuk mendengarkan saya berbicara. Tadi kita mengkonsumsi makanan. Kita juga menggunakan Villa tempat kita retreat ini untuk berteduh, beristirahat. Setiap waktu kita pasti mengkonsumsi, menggunakan, memakai sesuatu. Kita memakai atau menggunakan, atau mengkonsumsi sesuatu karena kebutuhan-kebutuhan. Jika demikian tidak salah jika dikatakan manusia memang “konsumtif” dalam pengetian ia memiliki kebutuhan untuk memakai atau
menggunakan sesuatu. Di sini kita ingat kata konsumen. Kita menjadi konsumen ketika kita membeli barang atau jasa sesuai dengan kebutuhan kita dari produsen yang memang menyediakan barang atau jasa yang kita butuhkan. Semenjak kecil sampai sekarang kita merasakan menjadi konsumen.

Konsumtif menjadi gaya hidup (konsumtivisme)

Pemahaman dan fakta bahwa kita telah menjadi konsumen semenjak kecil sampai sekarang, dan memang kita “konsumtif” dalam pengertian kita memakai, menggunakan sesuatu seturut dengan kebutuhan kita ini penting dalam pembahasan kita mengenai konsumtivisme ini, mengapa? karena dari sini kita bisa berangkat menyadari masalah kita. Fakta bahwa kita membutuhkan konsumsi sesuatu seturut dengan kebutuhan kita, dapat jatuh kedalam bahaya “isme”, yaitu sebagai sebuah pandangan hidup, falsafah hidup, gaya hidup. Lambat laun, karena menjadi sebuah gaya hidup, maka seseorang tidak akan puas dalam kesadaran bahwa ia butuh sesuatu saja (untuk dikonsumsi), tetapi lebih dari itu sifat konsumsi itu terjadi secara berlebih. Ia menjadi sebuah gaya hidup. Beberapa contoh gaya hidup konsumtif remaja
• Berkaitan dengan konsumsi barang/jasa, Makanan-minuman, pakaian & perlengkapan (kosmetika, sepatu, handphone, etc), transportasi.
• hobies into maniac (hobbies good, but maniac?)
• waktu dan energi (liat aja nanti, males-malesan, ga ada tujuan)

Apa akibat dari gaya hidup konsumtif remaja?

Apa akibat dari gaya hidup konsumtif ini? Dampak yang paling utama dari gaya hidup konsumtif ini adalah kerugian bagi diri sendiri. Mungkin saudara-saudara akan segera menanggapi apa ruginya? Orang duit-duit saya ini, yang beli saya yang makai saya, apa ruginya?
Betul, saya tidak akan menyangkal itu bukankah di awal tadi saya juga mengatakan manusia memang butuh konsumsi, ia konsumtif, tetapi satu hal yang ingin saya tegaskan ialah kerugian yang terjadi bagi diri sendiri bila orang menerapkan gaya hidup yang konsumtif ialah orang itu masuk ke dalam jerat, yang lambat laun menjadi kebiasaan, dan ketergantungan.
Salah satu modal penjual dalam memasarkan barang dagangannya selalu berangkat dari kesadaran akan sifat manusia yang tidak pernah puas. (di atas tadi sudah disebutkan tentang tawaran produsen, ia akan mencoba berbagai cara untuk memikat konsumen agar membeli produknya). Sesorang yang telah jatuh ke dalam jerat tawaran produsen akan cenderung jatuh ke dalam motivasi psikologis dalam membeli sebuah produk/mengkonsumsi kebutuhan. (contoh: motivasi fungsional diabaikan dan cenderung kepada gengsi). Hal ini menjadi merugikan ketika secara tidak sadar ia mengkonsumsi sesuatu melebihi kebutuhan fungsionalnya. Ketergantungan/jerat itu juga pada situasi ekstrim tertentu membunuh kreativitas seseorang (contoh: beli makanan jadi, situasi indonesia sebagai negara konsumen).
Itu dalam hal konsumsi barang/jasa. Dalam hal konsumsi waktu dan energi, kerugian bagi diri sendiri adalah kekacauan priotitas. (mis. Hobies into maniac. Ini pencurahan waktu berlebih kepada satu hal, yang melupakan prioritas yang mungkin lebih penting) (Sedangkan, laha-lehe, mental liat aja nanti, adalah pemborosan waktu dan energi tanpa apapun, tanpa prioritas).

Bagaimana menghindari gaya hidup konsumtif remaja?

Lalu, bagaimanakah caranya menghindari gaya hidup konsumtif? Cara menghindarinya tak lain ialah dengan mengetahui hal-hal yang mendukung terciptanya gaya hidup konsumtif.
Hal yang paling memungkinkan bagi seseorang untuk jatuh ke dalam gaya hidup konsumtif ialah tersedianya (bahkan terkadang dengan mudah dan berlimpah) uang, waktu, dan energi. Oleh karena itu yang harus dilakukan untuk menghindari gaya hidup konsumtif adalah bijaksana dalam menggunakan uang, waktu dan energi. Apa artinya bijaksana? Artinya mampu mengambil keputusan, tahu konsekuensinya, dan sanggup melaksanakannya.
Secara konkrit ini dapat dilakukan dengan membuat skala prioritas kebutuhan. Misalnya dalam menggunakan uang, seberapajauhkah kita menyadari pendapatan dan pengeluaran kita. (ex.susun rencana pendapatan dan pengeluaran.) dalam membeli kebutuhan, Ingat kecenderungan produsen untuk memberikan tawaran menarik. Dengan membuat skala prioritas kita akan berhati-hati dan menyadari “lapar mata” terhadap barang-barang tertentu.
Menyadari pengkondisian jaman yang terkadang menipu. Cetuskan nilai-nilai diri, aktualisasi diri. Be yourself. Banyak yang jatuh ke dalam gaya hidup konsumtif karena tidak memiliki penghargaan terhadap diri sendiri. Atau tidak menjadi diri sendiri. (mis: karena ingin diakui oleh kawan-kawannya, maka menggunakan produk bermerk yang mahal). http://www.essyeisen.com/renungan/64-remaja/104–gaya-hidup-konsumtif-mengapa-tidak-boleh.html

MENGATASI SIFAT BOROS

Pembaca, apakah Anda selalu boros dalam pengeluaran Anda? Bila ya, maka tips dibawah ini mungkin bisa membantu Anda untuk mengatasi sifat boros Anda:
1. Buat batasan terhadap diri Anda sendiri.
Kenapa Anda tidak coba membatasi pengeluaran Anda sendiri dan mencoba mematuhi batas tersebut? Anda bisa coba membuat Anggaran Pengeluaran Keluarga dan mencoba mematuhi anggaran tersebut. Ingatlah bahwa salah satu gunanya membuat anggaran adalah untuk membatasi diri Anda sendiri dalam mengeluarkan uang.
Sebagai contoh, kalau Anda rutin membeli baju baru setiap bulan, katakan Rp 200 ribu per bulan, maka buat anggaran sebesar – katakan – Rp 250 ribu per bulan untuk pembelian baju baru setiap bulan. Mengenai tinggi rendahnya angka anggaran tersebut akan kembali lagi kepada Anda, karena kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Anda baru disebut boros kalau pengeluaran Anda melebihi dari yang seharusnya, atau melebihi dari batas yang sudah Anda tetapkan sendiri.
2. Jangan mudah tertarik melihat suatu barang hanya karena barang itu bagus.
Jangan khawatir, tidak hanya Anda yang suka lapar mata. Terkadang saya sendiri juga sering lapar mata, dan ini manusiawi. Bedanya, ada orang yang bisa mengendalikan lapar mata itu, dan ada yang tidak. Ada banyak barang bagus di toko, tapi ketahuilah, kalau Anda tidak bisa mengendalikan lapar mata Anda, Anda akan terus menerus membeli, padahal uang Anda mungkin terbatas.
Tidak ada seorangpun yang bisa mengatasi lapar mata Anda, kecuali Anda sendiri. Bukan saya, bukan teman Anda, bukan keluarga Anda, tapi Anda sendiri. Percuma Anda memiliki anggaran kalau Anda masih juga sering lapar mata. Jadi, kendalikan lapar mata Anda.
3. Jangan mudah tertarik melihat suatu barang hanya karena barang itu didiskon.
Tidak peduli berapapun diskonnya, kalau Anda memang tidak membutuhkan barang tersebut, kenapa Anda harus membeli? Suatu transaksi jual beli barang seharusnya terjadi karena adanya kebutuhan, bukan karena adanya diskon, entah berapapun besarnya diskon tersebut.
Baju yang biasa berharga Rp 100 ribu bukan berarti harus dibeli hanya karena harganya didiskon menjadi Rp 20 ribu, kan? Yang penting di sini adalah, apakah Anda membutuhkan barang tersebut, bukan karena apakah barang itu didiskon atau tidak. Ingatlah bahwa diskon dibuat agar Anda membeli. Betul enggak?
Sekali lagi, semua itu kembali kepada diri Anda. Anda sendirilah yang bisa mencegah sifat boros Anda. Saya tidak bisa mengubah Anda. Hanya Andalah yang bisa mengubah diri Anda. Tetapkan tekad terlebih dulu untuk mengubah sifat boros Anda, karena percuma Anda mencoba menekan sifat boros Anda kalau Anda tidak menetapkan tekad terlebih dulu dalam hati Anda.

Tabloid NOVA No. 701