Kos dan pondok pesantren ini adalah dua tempat yang kontradiktif dalam pandangan umum. Bagi kalangan pesantren, kos adalah momok yang sebisa mungkin dihindari, mengapa? Kos yang dimaksud adalah suatu tempat (rumah / kamar) sewa , namun biasanya jika rumah sewa disebut kontrakan, sehingga predikat kos hanya untuk kamar sewa. Sebagaimana diketahui bersama bahwa kos merupakan tempat yang tidak ada aturan dan ketentuan seperti pondok pesantren.
Di dalam kos hanya ada aturan jam bertamu dan waktu yang mengharuskan anak kos berada di kos, selain dua aturan tersebut anak kos terbebas dari aturan yang lain karena ibu kos sudah mempercayakan segala sesuatu (yang berhubungan dengan mereka) kepada masing-masing anak kos. Dengan demikian tanggung jawab atas diri anak kos terletak di tangan anak kos itu sendiri, akan tetapi tidak semua kos demikian, karena ibu kos berada bersama anak kos maka pengawasan dan perhatian Tetap dipegang ibu kos.
Kebebasan yang ada di kos kemudian dijadikan kambing hitam dan kesempatan, terutama aspek pergaulan. Sebagian orang menganggap kebebasan di kos adalah kebebasan untuk bergaul bebas dan “lari” dari aturan-aturan formal, dan sebagian lain memandang kebebasan di kos merupakan kesempatan untuk bisa mencari jati dirinya dan mengekspresikan dirinya dengan dunia luar. Dan dengan tanpa aturan formal mereka dapat menilai siapa diri mereka.
Kos yang tidak ada aturan mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat, mayoritas masyarakat menilai rendah terhadap kos karena kebebasan dan bukan merupakan tempat menuntut ilmu agama sebagaimana pondok pesantren. Dan fenomena yang terjadi di kos sebagian orang yang belum memiliki ataupun memiliki pegangan yang kokoh terkadang bisa terjebak dalam pergaulan yang kurang baik.
Fenomena inilah kemudian banyak orang berargumen bahwa kos adalah tempat yang tidak baik. Pandangan miring (negative) ini disepakati dan diterima oleh umum dan tak terkecuali orang-orang pesantren. Adapun aktivitas anak kos yang paling mendapat sorotan adalah keluar malam, bergaul dengan lawan jenis dengan bebas dan berpakian ketat dan tansparan.
Berbeda dengan pondok pesantren, tempat ini dimuliakan dan diagung-agungkan oleh semua orang dan hampir tak ada yang berani membuka aib (kejelekan) pondok pesantren, mengapa demikian? Tentu saja semua orang percaya bahwa pondok pesantren adalah temapat yang mulia, karena pondok pesantren merupakan tempat menuntut ilmu agama dan tempat para tokoh agama dilahirkan.
Di dalam pondok pesantren selain mendapatkan ilmu agama mereka pun dididik dan diajarkan untuk bersikap hidup qana’ah, wara’ dan bersosial. Kapasitas santri di dalam pondok pesantren jauh lebih banyak dari pada kos, satu kamar kadang berjumlah dua puluh atau sepuluh, berbeda dengan kos yang biasanya satu kamar hanya untuk satu orang atau dua orang saja. Meskipun demikian, jumlah yang banyak justru lebih baik, dengan begitu santri dituntut agar lebih mampu menjaga toleransi, dan menepis perbedaan-perbedaan yang ada pada masing-masing santri, misalnya perbedaan daerah, bahasa, karakter dan sebagainya.
Dengan kondisi dan esensi yang berbeda antara kos dan pondok pesantren, tentunya ini akan mengefek terhadap predikat baik tempat maupun penghuninya. Pondok pesantren dengan segala kondisi dan esensinya dianggap bernilai baik sehingga santrinya pun akan terbawa-bawa menjadi baik, begitu juga sebaliknya dengan kos yang sudah dianggap negative maka anak kos pun akan menjadi negative. Hal ini, sungguh bukan suatu keadilan bagi kos dan anak kosnya, karena anggapan-anggapan global (secara umum) tersebut.
Sekarang yang menjadi pertanyaan, siapakah yang berani menjamin seratus persen santri itu baik dan anak kos itu buruk? Percayakah jika santri ternyata pecandu obat-obatan terlarang seperti narkotika? Yakinkah jika ternyata santri ada yang hamil di luar nikah? Na’udzubillahi min dzalik. Dan percayakah jika ternyata anak kos adalah seorang ‘ulama? Semua ini adalah kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi, karena tempat baik kos maupun pondok pesantren tidaklah seratus persen menjamin akan semua penghuninya mendapat predikat yang sama dengan tempat itu sendiri.
Kos dan pondok pesantren adalah hanya symbol untuk sebuah tempat atau bahasa untuk nama tempat. Bahasa adalah merupakan system symbol yang memiliki makna, merupakan alat komunikasi manusia, penuangan emosi manusia serta merupakan saran pengejawantahan pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mencari hakikat kebenaran dalam hidupnya .
Adapun ciri-ciri bahasa diantaranya : Konvensional, arbitrer (suka-suka) dan lain-lain. Bersifat arbitrer maksudnya tidak ada hubungan wajib antara lambang sebagai hal yang menandai yang berwujud kata atau leksem dengan benda atau konsep yang ditandai, yaitu refen dari kata tersebut .
Nah, seperti halnya kata Kos, kos adalah tempat sewa mengapa tidak dinamakan pondok pesantren atau hotel atau yang lainnya, begitu juga sebaliknya kata pondok pesantren. Dengan demikian kita tahu bahwa sebenarnya tempat dengan segala kondisinya tidaklah bermakna jelek atau buruk, itu hanyalah penamaan arbitrer, sehingga janganlah memandang sinis terhadap suatu tempat terutama kos yang selama ini masih dianggap momok oleh suatu kelompok.
Baik-buruknya suatu tempat hanya tergantung oleh penghuninya, jikalau anak kos menjadikan kos sebagai tempat mengaji atau diskusi ilmiah, apakah kos akan tetap mendapat predikat negative?dan begitu juga sebaliknya seandainya pondok pesantren sudah keluar jalur artinya hanya dijadikan sebagai tempat nge-gosip, ajang perselisihan, perbaikan nama baik dan status, penekanan dan mungkin pemaksaan serta penindasan, apakah pondok pesantren pun akan tetap berpredikat baik? Jawabannya ada dalam diri anda.
Deskriminasi terhadap tempat khususnya kos dan pondok pesantren ini agar tidak terjadi, perlu adanya pandangan atau persepsi yang luas sehingga tidak ada pemahaman yang sempit dan pandangan sinis terhadap suatu kelompok dan pemuliaan terhadap kelompok lain.
Manusia adalah makhluk yang lemah dan dinamis, perubahan-perubahan terhadap dirinya akan selalu terjadi, maka apakah kita juga bijak dan adil berkata anak kos adalah tidak baik? sehingga apakah kita hanya akan memilih dan mempercayai seorang santri selalu baik meskipun mereka hanya numpang tidur, atau kata guruku, maaf, numpang buang air besar doang di pondok pesantren?, karena predikat pondok pesantrennya baik.
Dunia ini penuh dengan kemungkinan-kemungkinan, untuk itu, kita harus bersikap bijaksana dan jangan merasa baik karena kemungkinan yang belum terjadi mungkin akan dan bisa terjadi.