Di tinjau dari maknanya secara etimologi, kata Tazkiyah An-Nafs berasal dari bahasa arab yaitu, “Azka Yuzki Tazkiyyatan” yang berarti “ Menyucikan atau Membersihkan”, Sedangkan kata “An-Nafs” itu sendiri berarti “ Jiwa (Diri)”. Jadi dari makna kedua kata diatas dapat di definisikan “Penyucian atau Pembersihan Jiwa (Diri)”.

Apabila dicermati, terdapat dua problem mendasar yang umumnya terdapat pada berbagai aktiviti Tazkiyah An-Nafs yang selama ini dilakukan. Pertama, terjadinya penyempitan pengertian Tazkiyah An-Nafs, yaitu hanya sebatas aktiviti individual-ritual. Akibatnya, penyucian atau pembersihan jiwa (diri) baru sekadar memotivasi individu untuk menjaga ibadah mahdhah (shalat, shaum, zakat, haji, dll), akhlak, berdoa, dan beristigfar, serta beberapa ibadah nafilah lainnya.

Kedua, Tazkiyah An-Nafs diindentikkan dengan proses menenangkan hati (kalbu) atau relaksasi. Bahkan alasan perbuatan tidak jarang menjadi alasan mengapa seseorang melakukan Tazkiyah An-Nafs seperti ini. Persoalannya adalah apakah Tazkiyah An-Nafs dalam Islam hanya sebatas hal yang demikian? Lalu dimana letak Islam sebagai penyelesaian atas persoalan hidup manusia, seperti masalah sosial, budaya, ekonomi, hukum, dan politik?

Al-Qur’an dan Hadits adalah dua pusaka Rasulullah SAW. yang harus selalu dirujuk setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang sangat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim.

Pribadi muslim yang dikehendaki Al-Qur’an dan Sunnah adalah pribadi yang shaleh. Pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah SWT.

Persepsi atau gambaran masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyahnya saja.

Padahal, itu hanyalah salah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Bila disederhanakan, setidaknya ada tiga karakter atau ciri khas yang mesti melekat pada pribadi muslim.

1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih). Salimul aqidah merupakan sesuatu

yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya.

Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah. “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam” (QS. 6:162). Karena aqidah yang bersih merupakan sesuatu yang amat penting, maka pada masa awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid.

2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar). Shahihul ibadah merupakan salah satu

perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh). Matinul khuluq merupakan sikap dan

perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah SWT maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.

Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. 68:4).

Maka untuk tujuan itulah, mengapa kiranya pemberdayaan pembudayaan pribadi muslim menjadi tolak ukur dalam Tazkiyah An-Nafs seorang santri. Nah, dengan menjadikan santri-santrinya manusia-manusia yang memiliki kebiasaan dan budaya hidup pribadi muslim itu, maka akan terciptalah generasi-generasi muslim yang unggul dan berkualitas sekaligus Mutafaqqih Fiddin. Yang berguna bagi dirinya khususnya, dan orang lain pada umumnya. Utamanya dalam menegakkan misi islam Izzil Islam Wal Muslimin. WaAllahu A’lamu Bishowwab