Membahas masalah aliran-aliran pemikiran dalam islam, maka tidak lain adalah membahas masalah ajaran-ajaran islam itu sendiri. Dalam sebuah perguruan tinggi, aliran-aliran atau ajaran ajaran itu biasa disebut dengan studi islam. Di kalangan para ahli masih terdapat perdebatan di sekitar permasalahan apakah studi islam (agama) dapat dimasukkan kedalam bidang ilmu pengetahuan, mengingat sifat karakteristik antara ilmu pengetahuan dan agama berbeda.

Namun sesuai dengan perkembangan zaman, perdebatan-perdebatan di kalangan para ahli tentang apakah sebenarnya studi islam menghasilkan titik temu. Nah, untuk itulah kiranya kita harus mengetahui aliran atau ajaran islam yang dalam masa ini lebih dikenal dengan studi islam. Studi-studi dalam islam memiliki banyak sekali aliran. Namun yang paling popular dalam perkembangannya ada empat buah ilmu pengetahuan, yaitu; ilmu kalam, ilmu fiqih (hukum), ilmu tasawuf, dan ilmu hadits.

1. Ilmu Kalam

Menurut Ibnu Khaldun, sebagaiman dikutip A. Hanafi, ilmu kalam ialah ilmu berisi alasan-alasan yang mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan-kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli sunnah.

Selain itu pula yang mengatakan bahwa ilmu kalam ialah ilmu yang membicarakan bagaiman menetapkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan dengan bukti-bukti yang meyakinkan. Di dalam ilmu ini dibahas tentang cara ma’rifat (mengetahui secara mendalam) tentang sifat-sifat Allah dan para Rasul-Nya dengan menggunakan dalil-dalil yang pasti guna mencapai kebahagian hidupabadi. Ilmu ini termasuk induk ilmu agama dan paling utama bahkan paling mulia, karena berkaitan dengan zat Allah, zat para Rasul-Nya.

Dalam pada itu Muhammad ‘Abduh berpendapat bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang membicarakan tentang wujud tuhan (Allah), sifat-sifat yang mesti ada pada-Nya, sifat-sifat yang mesti tidak ada pada-Nya, serta sifat-sifat yang mungkin ada pada-Nya, dan membicarakan pula tentang rasul-rasul tuhan, untuk menetapkan kerasulannya dan mengetahui sifat-sifat yang mesti ada pada-Nya, sifat-sifat yang mesti tidak ada pada-Nya, serta sifat-sifat yang mungkin ada pada-Nya, dan sifat-sifat yang mungkin terdapat pada-Nya.

Berdasarkan batasan tersebut tampak terlihat bahwa teologi adalah ilmu yang ada pada intinya berhubungan dengan masalah ketuhanan. Hal ini tidaklah salah, karena secara harfiah teologi berasal dari kata teo yang berarti tuhsn dan logi yang berarti ilmu.

Dalam perkembangan selanjutnya ilmu teologi juga berbicara tentang berbagai masalah yang berkaitan dengan keimanan serta akibat-akibatnya, seperti masalah iman, kufr, musyrik, murtad; masalah kehidupan akhirat dengan berbagai kenikmatan atau penderitaannya; hal-hal yang membawa pada semakin tebal dan tipisnya iman; hal-hal yang berkaitan dengan kalamullah yakni Al-qur’; status orang-orang yang tidak beriman dan sebagainya. Sejalan dengan perkembangan ruang lingkup pembahasan ilmu ini, maka teologi terkadang dinamai pula Ilmu Tauhid, Ilmu Ushuluddin, Ilmu ‘Aqoid, dan Ilmu Ketuhanan.

2. Ilmu Fiqih (Hukum Islam)

Pengertian Hukum Islam hingga saat ini masih rancu dengan pengertian syariah. Untuk itu dalam pengertian hukum islam di sini dimaksudkan di dalamnya pengertian syariat. Dalam kaitan ini dijumpai pendapat yang mengatakan bahwa hukum Islam atau Fiqih adalah sekelompok dengan syariat—yaitu ilmu yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia yang diambil dari nash Alquran dan al-Shunnah. Bila ada nash dari Alquran atau Al-Shunnah yang berhubungan dengan amal perbuatan tersebut, atau yang diambil dari sumber-sumber lain, bila tidak ada nash dari Alquran dan Al-Shunnah, dibentuklah suatu ilmu yang disebut dengan Ilmu Fiqih. Dengan demikian yang disebut Ilmu Fiqih adalah sekelompok hukum tentang amal perbuatan manusia yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci.

Yang dimaksud dengan amal perbuatan manusia ialah segala amal perbuatan mukallaf yang berhubungan dengan bidang ibadat, mu’amalat, kepidanaan dan sebagainya; bukan yang berhubungan dengan akidah (kepercayaan). Sebab yang terakhir ini termasuk dalam pembahasan Ilmu Kalam. Adapun yang dimaksud dengan dalil-dalil yang terperinci ialah satuan dalil yang masing-masing menunjuk kepada suatu hukum tertentu.

Berdasarkan batasan-batasan tersebut diatas sebenarnya dapat dibedakan antara syariah dan hukum Islam atau Fiqih. Perbedan tersebut terlihat pada dasar atau dalil yang digunakan. Jika syariat didasarkan pada nash atau dalil Alquran dan Al-Shunah secara langsung tanpa penalaran; sedangkan hukum Islam didasarkan pada dalil-dalil yang dibangun oleh para Ulama melalui penalaran atau ijtihad dengan tetap berpegang pada semangat yang terdapat dalam syariat. Dengan demikian, jika syariat bersifat permanen, kekal dan abadi, fiqih atau hukum Islam bersifat temporer, dan dapat berubah.

3. Ilmu Tasawuf

Dari segi kebahasan (linguistik) terdapat sejmlah kata atau istilah yang dihubungkan orang dengan tasawuf. Harun Nasution misalnya menyebutkan lima istilah yang berhubungan denag tasawuf, yaitu al-suffah (ahl al-suffah) yaitu orang yang ikut pindah dengan nabi dari Makkah ke Madinah, saf, yaitu barisan yang dijumpai dalam melaksanakan shalat berjama’ah, sufi yaitu bersih dan suci, sophos (bahasa Yunani:hikmah), dan suf (kain wol kasar).

Jika diperhatikan secara saksama, tampak kelima istilah tersebut bertemakan tentang sifat-sifat dan keadaan yang terpuji, kesederhanaan, dan kedekatan dengan tuhan. Kata ahl al-suffah misalnya menggambarkan keadaan orang yang mencurahkan jiwa raganya, harta benda dan lainnya sebagai kekayaan, harta benda dan sebagainya yang ada di Makkah untuk ditinggalkan karena ikut hijrah bersama nabi ke Madinah. Tanpa ada unsur iman dan keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah, tidaklah mungkin hal demikian mereka lakukan.

Selanjutnya kata saf juga menggambarkan keadaan orang yang selalu berada di barisan depan dalam beribadah kepada Allah dan melakukan amal kebajikan lainnya. Demikian pula kata sufi yang berarti bersih, suci dan murni menggambarkan orang yang selalu memelihara dirinya dari perbuatan dosa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya; selanjutnya kata suf yang berarti kain wol yang kasar menggambarkan orang yang hidupnya serba sederhana, tidak mengutamakan kepentingan dunia, tidak mau diperbudak oleh harta yang dapat menjerumuskan dirinya dan membawa ia lupa akan tujuan hidupnya, yakni beribadah kepada Allah. Demikian pula kata shopos yang berarti hikmah juga menggambarkan keadaan orang yang jiwanya senantiasa cenderung kepada kebenaran.

Dengan demikian dari segi kebahasan tasawuf menggambarkan keadaan yang selalu berorientasi kepada kesucian jiwa, mengutamakan kebenaran, dan rela berkorban demi tuuan-tujuan yang lebih mulia disisi Allah. Sikap demikian pada akhirnya membawa seseorang berjiwa tangguh, memiliki daya tangkal yang kuat dan efektif terhadap berbagai godaan hidup yang menyesatkan.

Tasawuf atau sufisme adalah salah satu dari jalan yang diletakkan Tuhan di dalam lubuk Islam dalam rangka menunjukkan mungkinnya pelaksanaan kehidupan rohani bagi jutaan manusia yang sejati yang telah berabad-abad mengikuti dan terus mengikuti agama yang diajarkan Alquran.

4. Ilmu Hadits

Pada garis besarnya pengertian hadits dapat dilihat melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan kebahasaan (lingustik) dan pendekatan istilah (terminologis).

Dilihat dari pendekatan kebahasaan, hadits berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata hadatsa, yahdutsu, hadtsan, haditsan dengan pengertian yang bermacam-macam. Kata tersebut misalnya dapat berarti al-jadid min al-asya’ sesuatu yang baru, sebagai lawan dari kata al-qadim yang artinya sesuatu yang sudah kuno atau klasik. Penggunaan kata al-hadits dalam arti demikian dapat kita jumpai pada ungkapan hadits al-bina dengan arti jadid al-bina artinya bangunan baru.

Selanjutnya, kata al-hadits dapat pula berarti al-qarib yang bearti menunjukkan pada waktu yang dekat atau waktu yang singkat. Untuk ini kita dapat melihat pada contoh hadits al-‘and bi al-islam yang berarti orang yang baru masuk islam.

Kata al-hadits kemudian dapat pula berarti al-khabar yang berarti ma yutahaddats bih wa yunqal, yaitu sesuatu yang diperbincangkan, dibicarakan atau diberitakan, dan dialihkan dari seseorang kepada orang lain. Dan hadits dalam pengertian al-khabar ini banyak dijumpai pemakaiannya di dalam Alquran. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Al-Thur yang berbunyi:

فليأتوا بحديث مثله إنكانوا صدقين (الطور:34)

“Maka hendaklah mereka mendatangkan khabar (berita) yang serupa dengan Al-Quran itu jika mereka mengaku orag0orang yang benar.” (QS Al-Thur, 52:34)

Selanjutnya, hadits dilihat dari segi pengertian secara terminologis dijumpai pendapat yang berbeda-beda. Hal ini antara lain disebabkan karena perbedaan cara pandang yang digunakan oleh masing-masing dalam melihat suatu masalah. Para ulama ahli hadits misalnya berpendapat bahwa hadits bukan hanya perkataan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah Saw., akan tetapi termasuk perkataan, perbuatan, dan ketetapan para sahabat dan tabi’in. dalam pada itu ulama ahli ushul fiqih berpendapat bahwa hadits adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah Saw. yang berkaitan dengan hukum. Sementara itu ulama ahli fiqih mengidentikan hadits dengan sunnah, yaitu sebagai salah satu dari hukum taklifi, suatu perbuatan apabila dikerjakan akan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak akan disiksa. Dalam kaiatan ini ulama fiqih berpendapat bahwa hadits adalah syar’iyah untuk perbuatan yang dituntut mengerjakannya, akan tetapi tuntutan melaksanakannya tidak secara pasti, sehingga diberi pahala orang yang mengerjakannya dan tidak disiksa orang yang meninggalkannya.

Referensi:

Metodologi Studi Islam karya Prof. Dr. H. Abdullah Nata, M.A