Malam itu..

Tadi malam, kamu tahu nggak ?!

Sekujur tubuhku beku kaku

Merintih, lalu meronta-ronta tak sadarkan diri

Berharap cemas bagai sakaratul maut

Menanti kilau putih permata hati;

Dan selalu kurindui

(*

Dingin kali ini membuatku gelisah, tiada henti

Jiwa yang beku tak berdaya ini semakin;

Terseret dibawa derasnya aliran sungai

Setiap kali terbentuk dengan bebatuan cadas

Selalu merintih-rintih

Auuuh….

Ouch…..

Aduhh…..!

Lekaslah !

Lekaslah, kau berbenah diri !

Tinggalkanlah, sejak dini !

Sebelum waktu bergulir lebih jauh

Agar engkau tak merugi

Lekaslah, kau berbenah diri !

Buanglah, sejak dini !

Getirnya sakit hati yang kau ratapi

Berganti cinta yang suci putih

Lekaslah, kau berbenah diri !

Kerjakanlah, sejak dini !

Beramal sejati, berilmu luas

Dengan taringmu yang sekuat baja

Lekaslah, kau berbenah diri !

Gapailah, sejak dini !

Badan kaya, rohani pun sehat

Derai-derai Kerinduan

Habislah tuhan…

Kini kuberada di ujung kematian

Setelah, ku jalani rangkaian demi rangkaian

Kehidupan

Yang terkadang manis juga terkadang pahit

Dan kini…

Berakhir pula masa usiaku

Tinggal menunggu “Kapan ia datang?”

Sudahkah kau siap menyambut

Kedatangannya?

Namun kini…

Ku tak mampu berbuat sesuatu

Karena waktu ku telah berakhir

Aku pun teriak”Tuhan!!” Berilah aku

Kesempatan untuk mempersiapkan semua ini

Aku mohon…tuhan… aku mohon…

Nafsu

Saat tiba waktunya

Aliran darah pun memuncak

Keinginan untuk bisa memiliki

Dan memang harus dimiliki

Bila nafsu menguasai hati

Pastilah manusia kan terbohongi

Oleh cara licik yang ditempuhnya

Biar saja!

Semua orang membenci

Asalkan nafsu terpenuhi

Akan bahagia dengannya

Karenanya hidup ini berseni

Kenikmatan sesaat

Ya, memang rasanya enak

Sungguh sangat nikmat

Biarlah itu berlalu

Lelah, kuakhiri ini..

Penantian panjang nan berliku

Demi satu tekad

Yang harus terpenuhi

Ah, biarlah itu semua berlalu

Luka itu…

Deru air mata ini…

Seakan tertumpah tiada penghalang

Mengingat kisah itu,

Mulutku terbungkam membisu

Air mataku pun luluh bagai abu

Menggores luka kelam kelabu

Namun…

Aku tak kuasa menolongnya

Menghindarkan dirinya dari luka itu

Aku hanya bisa terpana menyaksikannya

Membiarkan dirinya terkena luka itu

Maafkan aku…ibu…..

Maafkan aku…ibu….

Fenomena fajar

Fajar menyingsing

Kumandang adzan shubuh menggema

Kokokkan ayam jago pun ikut meramaikan

Suasana pagi ini

Sekelompok manusia sedang asyik bersiap diri

Mengenakan sarung dan kopiah putih

Tak terkecuali sorban panjang warna hijau

Pergi berduyun-duyun menuju rumah harapan

Dan kedamaian

Bertekadkan satu niat lillahita’ala

Al-Amien Prenduan, 11 Agustus 2009 M.